Tak mau lagi dikecewakan karena
menyayangi dan mencintai orang yang salah. Trauma? Mungkin. Karena sepertinya
hati yang dulu utuh dan kuat, kini tidak sama lagi. Sekarang memang terlihat
kuat dan tegar, namun orang lain tidak pernah menyangka kalau pada kenyataannya
hati itu lebih rapuh dan mudah sekali terluka.
Kekecewaan itu telah menghantam dan
meremuk-redamkan hati yang selama ini utuh menjadi serpihan kecil.
Ketidakpercayaan pada kasih sayang dan cinta membuat selalu berpikiran skeptis
dan negatif bila ada yang menyinggungnya. Aneh rasanya bagaimana bisa diri yang
dulu mudah terbuka dengan siapa saja, kini seakan menjaga jarak dan terbentengi
agar tidak merasa terluka lagi. Dulu dengan mudah berkenalan dan bergaul dengan
orang lain kini terlihat canggung apabila berdekatan dengan orang yang baru
dijumpai atau orang yang lama tidak dijumpai. Seolah-olah takut untuk berada di
sekitar mereka.
Mungkin luka yang dulu pernah ada masih
belum sepenuhnya terobati, sehingga terlalu takut untuk memberi kepercayaan
pada orang lain. Mungkin luka itu hanya tertutupi bagai kamuflase saja, tidak
berusaha untuk disembuhkan, sehingga terasa menakutkan untuk membuka diri pada
orang lain. Akan tetapi, bagaimana bisa dengan mudah percaya, bisa membuka diri
dan tidak takut untuk dikecewakan, kalau orang yang pernah mengecewakan itu
bahkan tidak pernah meminta maaf atas kesalahannya sehingga membuat sebuah hati
menjadi seperti itu.
Luka yang terlalu dalam hingga sampai
saat ini masih belum mampu memaafkan dengan lapang. Delapan tahun menunggu
untuk mengucapkan kata “maaf” dan berharap akan berkata semua tetap sama,
semua akan baik-baik saja dan tidak akan ada yang berubah. Menunggu di setiap
kesempatan untuk bertemu.
Nyatanya semua berubah, semua tidak
sama lagi, semua tidak tampak baik-baik saja dan yang paling membuat paling
terluka adalah dirinya yang sudah tidak sama lagi. Bukan lagi orang yang dulu
dikenal. Orang yang paling disayangi, cintai, percaya dan merupakan cinta
pertama. Namun kini seperti orang asing yang tidak dikenal lagi. Sungguh
realita yang cukup menyedihkan.
Surabaya,
Agustus 2015
No comments:
Post a Comment